Pernah nggak sih ngerasa, fashion sekarang tuh kayak main rollercoaster gitu. Sebelum sempet bener-bener ngejalanin satu gaya, udah muncul tren baru lagi di FYP. Tapi coba perhatiin lebih dekat, ada yang menarik dari tren fashion TikTok 2026. Mereka nggak cuma soal “pakaian apa yang lagi hits”, tapi juga soal gimana kita ngejalanin hidup dan gimana kita nampilin diri ke dunia. Ini bukan cuma fashion—ini psikologi, ini statement, ini bahkan strategi bertahan hidup di era yang serba cepat.
Gue penasaran banget, kenapa sih beberapa tren bisa “meletup” dan bertahan, sementara yang lain cuma jadi flash in the pan? Ada pola yang ternyata bisa kita baca. Yuk, kita bedah lima tren yang lagi dominan dan gimana strategi di balik viralnya mereka.
1. Clean Girl Aesthetic: Ketika “Nggak Usah Susah-susah” Jadi Susah Banget
Kita mulai dari yang paling dulu hits dan masih bertahan sampai sekarang: Clean Girl aesthetic. Ini tren yang mulai populer di 2021 dan sampai 2026 masih punya pengaruh gede . Gaya ini tentang natural beauty, kesehatan, minimalis, dan rutinitas perawatan diri yang ketat .
Ciri-cirinya? Kulit kinclong, rambut slicked-back bun, makeup “no-makeup” look, outfit warna netral kayak putih, beige, abu-abu, sama hitam . Ini adalah estetika “effortless perfection” yang bikin kamu keliatan kayak baru bangun tidur—tapi sebenarnya butuh effort super besar buat nyampe ke situ.
Psikologi di baliknya: Kenapa tren ini bisa viral dan bertahan? Jawabannya ada di dua hal: pertama, ini reaksi terhadap kelelahan visual dari Y2K yang ramai dan penuh warna . Kedua, ini soal aspirational identity. Penelitian dari Lund University nemu kalau di balik penampilan Clean Girl yang “sempurna” itu ada hidden labor—kerja keras di balik layar yang nggak keliatan di video .
Dan ini ironinya: tren yang katanya “minimalis” dan “simple” ini sebenarnya menuntut dedikasi tinggi. Rutinitas skincare 5+ langkah, workout teratur (Pilates jadi favorit), makan sehat, bangun pagi—semuanya harus dijalani biar keliatan effortless . Ini bukan cuma gaya, ini lifestyle yang lengkap.
Strategi viralnya:
- Visual consistency: Warna netral dan estetika yang bersih bikin kontennya gampang dikenali
- Aspirational value: Orang pengen jadi versi terbaik dari diri mereka, dan Clean Girl nge-sell itu
- Komunitas yang kuat: Tagar #CleanGirl udah dipakai di lebih dari 1,2 juta video di TikTok
2. Low-Energy Dressing: Saat “Malas” Jadi Gaya Hidup
Nah, ini tren yang lagi naik daun banget di 2026. Low-energy dressing adalah kebalikan dari performatif fashion—ini tentang simplicity, soft silhouettes, quiet colors, dan unfussy basics . Istilah ini muncul dari kelelahan kita semua terhadap tren yang berganti tiap minggu.
Psikologi di baliknya: Ini bukan cuma soal fashion, tapi soal survival. Fashion psychologist Dr. Dion Terrelonge bilang, “Life right now is incredibly energy-zapping… Low-energy dressing gives people a sense of simplicity and stability” .
Kita lagi hidup di tengah banjir informasi, krisis eksistensial, dan algoritma yang nggak pernah berhenti. Memilih pakaian sederhana adalah coping mechanism—cara kita mengurangi beban kognitif dan ngasih diri kita sedikit kendali di tengah chaos .
Kate Nightingale, consumer psychologist, nambahin: “When life feels unstable, we are drawn to nostalgia, simplicity and traditionalism. It activates our sense of control” .
Tapi ada twist-nya. Shakaila Forbes-Bell, fashion psychologist, ngasih perspektif lain: “Minimalism is now tied to wealth. Bright colours and partywear became associated with low-quality fast fashion. So simplicity has become a signifier of refinement” . Jadi low-energy dressing juga soal class signaling—tampil sederhana tapi punya makna.
Ironi terbesarnya: “Looking effortless often requires effort” . Jadi ini sebenernya adalah estetika lain yang juga butuh kerja keras—cuma kerja kerasnya beda. Bukan soal makeup 9 step, tapi soal curating lemari pakaian yang “terlihat simpel” tapi dipikirkan matang-matang.
3. Blokecore: Dari Stadion ke Catwalk
Nah, ini tren yang lagi meledak banget di 2026, apalagi karena ada Piala Dunia. Blokecore adalah gaya yang terinspirasi dari budaya sepak bola Inggris tahun 1990-an: jersey retro, jeans lurus, dan sepatu klasik kayak Adidas Samba atau Gazelle .
Awalnya cuma iseng. Brandon Huntley dari Amerika bikin tagar #blokecore di TikTok pada 2022—awalnya cuma bercandaan sama temennya tentang gaya “bloke” ala Inggris. Sekarang tagar itu udah tembus 34 juta postingan .
Psikologi di baliknya: Blokecore viral karena beberapa alasan:
- Nostalgia: Jersey retro membawa kenangan akan momen-momen ikonik sepak bola. Kayak jersey Brasil 2002 atau Nigeria 1994—itu bukan cuma baju, itu sejarah .
- Autentisitas: Di tengah fashion yang serba dibuat-buat, jersey punya cerita nyata. “Unlike many fashion trends, football jerseys carry history, identity, and nostalgia” .
- Inklusivitas: Blokecore nggak memandang jenis kelamin. Jersey bisa dipadu dengan rok mini, hijab dengan warna yang match, atau aksesori chunky—ini gaya yang fleksibel dan personal .
Emeric Tchatchoua, desainer dan pendiri 3.Paradis, bilang: “Younger generations are embracing Blokecore the same way the Casuals did—seeking more authenticity and purity in an increasingly complex world” . Ini tentang finding identity di tengah dunia yang rumit.
4. Athletic Shorts & Micro Proportions: Kontras yang Sengaja Dibikin
Dua tren ini menarik karena keduanya tentang contrast. Vogue Arabia menyebut athletic shorts yang dipadu dengan blazer, kitten heels, atau kemeja rapi adalah “styling device rather than a sporty staple” . Ini sengaja bikin orang bingung—maskulin dan feminin sekaligus, rapi dan berantakan dalam satu tampilan .
Di sisi lain, ada micro proportions—rok mini, cardigan mungil—yang biasanya dipadu dengan outer oversized atau sepatu datar . Miu Miu jadi pelopor tren ini, dan mereka nggak main-main soal logo. “We don’t do stealth wealth; the visible logo is the icing on an otherwise saccharine fashion cake” .
Psikologi di baliknya: Ini tentang playing with expectations. Athletic shorts yang dipadu dengan item formal menantang norma—kamu bisa sporty dan elegan sekaligus. Micro proportions yang dikontraskan dengan outer besar main-main dengan persepsi tentang proporsi tubuh.
Tren ini juga ngasih sinyal: “Saya mengerti fashion, saya tahu aturannya, dan saya sengaja melanggarnya.” Ini bentuk cultural capital.
5. Skinny Jeans: Comeback yang Nggak Terduga
Ini mungkin tren yang paling kontroversial. Setelah bertahun-tahun dinyatakan “mati”, skinny jeans balik lagi . Tapi kali ini beda. Bukan skinney jeans super ketat kayak tahun 2010-an, tapi dark-wash skinnies yang dipadu dengan pointed boots, kitten-heeled sandals, atau oversized boyfriend shirts .
Psikologi di baliknya: Ini soal self-awareness. “There is a self-awareness to it, a nod to the mid-2010s, and a kind of surrender to a trend we might as well learn to master. The awkwardness is part of the appeal” .
Ini menarik karena skinny jeans bukan cuma fashion—ini cultural marker. Orang yang pakai skinny jeans sekarang ngirim sinyal: “Saya ingat tren ini, saya tahu ini ‘ketinggalan zaman’, tapi saya pakai anyway.” Ini semacam ironic nostalgia yang jadi ciri khas Gen Z.
3 Kesalahan Fatal Saat Mengikuti Tren Fashion TikTok
- Cuma Ikut-ikutan Tanpa Tau Konteks: Blokecore itu punya sejarah—dari Casuals di Inggris tahun 1970-an sampai ke viral di TikTok . Clean Girl juga punya kritik soal cultural appropriation . Kalau cuma ikut-ikutan tanpa paham, kamu bisa kehilangan esensi dan malah keliatan nggak autentik.
- Terjebak FOMO dan Perilaku Konsumtif: Penelitian tentang FOMO dan tren fashion nemu kalau Fear of Missing Out punya pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif di kalangan Gen Z . Jangan beli cuma karena tren—pikirkan apakah item itu beneran cocok sama gaya hidup dan identitas kamu.
- Mengorbankan Kenyamanan demi Estetika: Low-energy dressing viral karena orang capek sama ketidaknyamanan . Tapi ironisnya, beberapa tren malah nuntut ketidaknyamanan (crop top super pendek, sepatu yang nggak nyaman). Jangan lupa: fashion seharusnya buat kamu, bukan kamu buat fashion.
Tips Praktis: Jadi Lebih dari Sekadar “Pengikut Tren”
- Pahami “Mengapa” di Balik Tren: Sebelum beli jersey retro atau skincare 5 step, tanya: “Apa yang bikin tren ini viral?” Dengan paham konteksnya, kamu nggak cuma ikut-ikutan tapi beneran ngerti .
- Kombinasikan dengan Identitas Pribadi: Fashion FYP TikTok sekarang makin personal . Jangan takut mix-and-match tren dengan gaya kamu sendiri. Ciri khas itu lebih berharga daripada sekadar mengikuti template.
- Beli dengan Bijak: Low-energy dressing dan sustainable fashion lagi naik daun . Pilih item yang benar-benar bisa dipakai berulang kali, bukan cuma buat satu konten TikTok.
Kesimpulan: Tren Viral Adalah Cermin Zaman
Jadi, apa yang sebenernya terjadi? Tren fashion TikTok yang viral di 2026—dari Clean Girl, Low-Energy Dressing, Blokecore, sampai comeback Skinny Jeans—bukan cuma soal estetika. Ini adalah response kolektif terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan psikologis kita.
Clean Girl adalah respons terhadap kelelahan visual dan kebutuhan akan kontrol . Low-Energy Dressing adalah coping mechanism di tengah krisis . Blokecore adalah pencarian autentisitas dan identitas . Athletic shorts dan micro proportions adalah permainan dengan ekspektasi . Dan comeback Skinny Jeans adalah self-aware irony .
Fashion adalah bahasa. Dan bahasa itu selalu berubah mengikuti siapa yang memakainya dan zaman apa yang sedang dijalani. Jadi, daripada cuma ikut-ikutan, yuk kita pahami apa yang sebenernya kita katakan lewat pilihan fashion kita. Karena di 2026, gaya bukan cuma soal penampilan—ini soal siapa kita dan bagaimana kita menghadapi dunia.
