Lo buka aplikasi e-commerce favorit. Scroll feed “Untuk Kamu”. Semuanya terlihat… cocok. Celana high-waist bagus. Blus lace itu lucu. Jaket bomber warna earth tone pasti klop sama lemari lo. Tapi pernah nggak lo ngerasa, semua yang lo liat kok rasanya udah pernah liat di orang lain? Atau bahkan, lo sendiri udah punya varian yang hampir sama?
Selamat. Lo sedang mengenakan seragam digital. Sebuah gaya yang dirancang sempurna oleh mesin untuk profil lo, tapi identik dengan ribuan profil lain. Rekomendasi AI bukan membantu lo menemukan gaya. Tapi mengunci lo dalam gaya yang paling mungkin lo beli.
Data dari Digital Fashion Consortium 2026 bilang, 72% pembelian fashion online di platform besar dipicu oleh rekomendasi algoritmik, bukan penelusuran aktif. Artinya, kita hampir nggak lagi memilih. Kita hanya menyetujui pilihan yang sudah disaring untuk kita.
Investigasi: Bagaimana AI Membunuh ‘Happy Accidents’ dalam Berpakaian
- Kasus “Celana Cargo yang Tiba-tiba Ada di Mana-Mana”: Awal 2025, beberapa influencer besar beli celana cargo. AI platform e-commerce langsung mendeteksi lonjakan klik dan konversi di item itu. Algoritma lalu mulai membanjiri feed semua orang yang pernah klik “streetwear” atau “outfit casual” dengan celana cargo dari berbagai brand. Dalam 3 bulan, item itu jadi best seller. Yang kita saksikan bukanlah tren organik. Tapi tren buatan algoritma yang menjadi ramalan yang memenuhi dirinya sendiri. Lo pikir lo sedang mengikuti tren. Padahal, lo sedang diarahkan untuk membeli apa yang sudah diprediksi akan lo beli. Semua orang punya celana cargo yang mirip. Itu bukan gaya personal. Itu uniformity.
- Kematian “Thrifting Digital” dan Referensi Subkultur yang Hilang: Dulu, lo bisa terdampar di lapak online atau toko fisik, nemu kaus band obscure atau jaket denim vintage dengan patch aneh. Itu jadi statement piece unik yang nggak semua orang punya. Sekarang, algoritma toko online hanya akan menampilkan barang dengan “tingkat konversi tinggi” dan “rating bagus” di halaman depan. Item-item unik, niche, atau sedikit “aneh” tersembunyi di halaman 20 hasil pencarian. AI menghapus elemen eksperimen gaya karena tidak optimal untuk penjualan. Referensi gaya dari punk, grunge, atau scene tertentu yang tadinya ditemukan lewat eksplorasi, sekarang menghilang dari radar.
- Ilusi “Personalized” yang Menciptakan Kloning Gaya: Lo klik “suka” pada satu dress floral. Besoknya, seluruh feed lo dipenuhi dress floral dalam segala bentuk. Minggu depannya, lo mulai ikut-ikutan beli. Musim berikutnya, AI merekomendasikan cardigan dan sepatu yang “sering dibeli bersama” dengan dress floral. Dalam setahun, seluruh wardrobe lo adalah hasil dari satu klik pertama tadi. Gaya lo bukan lagi ekspresi diri yang dinamis, tapi jalur belanja yang sudah dipetakan algoritma. Ini algoritma e-commerce yang membunuh intuisi dan playfulness. Lo merasa dilayani, padahal sedang dikurung.
Jadi, kita harus kembali ke toko fisik? Nggak juga. Tapi kita perlu lebih cerdas dan sengaja memberontak.
Common Mistakes Fashion Enthusiasts Online:
- Terlalu Percaya pada “Untuk Kamu” sebagai Sumber Inspirasi Utama: Itu adalah zona nyaman yang sudah dijaga algoritma. Kalau cuma andalkan itu, wawasan lo akan mandek dan semakin sempit.
- Mengklik “Tidak Tertarik” Hanya pada Item yang Benar-Benar Sangat Tidak Disuka: Algoritma menganggap klik itu sebagai engagement. Dia akan tetap membanjirim lo dengan kategori serupa, karena lo “berinteraksi”. Diam saja dan scroll cepat seringkali lebih efektif untuk “membingungkan” algoritma.
- Menganggap “Yang Lain Juga Membeli” sebagai Validasi Gaya: Itu bukan validasi. Itu justru tanda bahwa lo akan terlihat seperti orang lain. Keterangan itu dirancang untuk menciptakan fear of missing out (FOMO) dan mengurangi risiko percobaan gaya yang unik.
Tips Praktis untuk Keluar dari Jerat Rekomendasi AI:
- Gunakan Pencarian dengan Kata Kunci yang Sangat Spesifik dan Aneh: Jangan cari “kemeja”. Cari “kemeja oversized linen warna mustard” atau “kemeja bordir vintage”. Hasilnya akan jauh lebih beragam dan menarik. Paksa algoritma untuk melayani lo, bukan sebaliknya.
- Buat “Akun Penjelajah” yang Bersih dari Riwayat: Buat akun email dan akun e-commerce baru yang sama sekali belum pernah lo pakai belanja. Liat apa yang muncul di halaman depan. Itu adalah “tren massal” yang sedang didorong platform. Lalu, dengan sengaja, jelajah kategori yang biasanya tidak lo kunjungi di akun utama lo.
- Sengaja “Merusak” Algoritma dengan Pencarian Acak: Sesekali, klik atau cari item yang sangat jauh dari minat lo. Pria? Coba cari “dress tutu”. Suka minimalist? Cari “jaket kulit studs”. Ini akan mengacaukan profil data lo dan memaksa AI menampilkan hal-hal tak terduga di kemudian hari. Jadikan algoritma bingung.
Algoritma vs. Intuisi ini adalah pertarungan untuk kedaulatan selera. AI ingin kita efisien, mudah diprediksi, dan rajin membeli. Intuisi kita ingin berekspresi, bereksperimen, dan terkadang, membuat “kesalahan” yang justru melahirkan gaya yang paling diingat orang.
Gaya personal yang sejati lahir dari tabrakan ide, dari pengamatan di jalanan, dari mencoba hal yang salah. Bukan dari umpan balik data yang tak terlihat. Saatnya mengambil kembali kendali.
Lo mau jadi profil data yang rapi, atau manusia dengan lemari yang punya cerita?
