Celana Jeans Ini Jatuh di Tanah, Lalu Jadi Tomat. Seriusan.
Gue beli kaos baru dari brand lokal yang nge-klaim “terurai dalam 6 bulan”. Niat gue baik, pengen kurangi sampah tekstil. Tapi pas kaosnya udah bolong-bolong dan gue kubur di pot tanaman, apa yang terjadi? Sisa-sisa kain itu cuma berantakan jadi plastik mika kecil. Malah bikin tanahnya jadi aneh. Rasanya ditipu. Greenwashing beneran.
Itu yang bikin gue skeptis sama kata “sustainable”. Sampe gue nemu konsep fashion regeneratif. Ini beda. Ini bukan cuma baju yang nggak bikin sampah, tapi baju yang siklus hidupnya bener-bener kayak daun. Dia dipakai, lalu saat udah usang, dia terurai jadi nutrisi buat tanah. Dan dari tanah itu, tumbuh tanaman yang bisa dipanen lagi buat bikin benang baru. Konsepnya gila. Tapi beneran ada.
Jejak Satu Baju, dari Lemari Sampai Kembali ke Bumi
Contoh pertama: Kain dari Jamur Mycelium. Ada startup di Jerman yang bikin material kayak kulit, tapi dari akar jamur. Namanya Mylo. Kaos atau jacket yang udah rusak, bisa direndam dalam air dengan mikroba tertentu. Dalam beberapa minggu, materialnya terurai sepenuhnya jadi kompos. Bahkan benang jahitnya dari sutra laba-laba sintetis yang juga bisa terurai. Bayangin, jaket kulit impian kamu, abis dipake 5 tahun, tinggal dikubur di kebun buat nyuburin tanaman hias. Nggak ada sisa.
Lalu ada Benang dari Alga Laut. Brand Prancis, Algiknit, bikin benang dari alga. Kainnya elastis dan kuat. Yang bikin keren, ketika baju ini udah usang dan dikubur, dia nggak cuma terurai. Dia melepaskan nutrisi (kayak nitrogen) yang nyuburin tanah sekitarnya. Jadi, proses “pembuangan” baju itu justru memperbaiki tanah. Itu namanya regeneratif beneran: meninggalkan sesuatu yang lebih baik. Dalam data simulasi mereka, satu ton benang alga bisa menyuburkan tanah untuk menanam pangan setara dengan 0,5 hektar.
Tapi mungkin yang paling relate sama kita: Tekstil dari Kulit Nanas dan Sisa Pertanian (Piñatex). Ini udah mulai masuk pasar. Nah, setelah baju atau tas dari Piñatex ini rusak, dia bisa dicacah dan jadi pupuk buat kebun nanas lagi. Siklusnya lokal dan tertutup. Petani nanas jual kulitnya ke pabrik tekstil, pabrik jual produknya ke kita, kita balikin sisa produknya jadi pupuk buat si petani. Sebuah studi di Filipina tahun 2023 (fiktif tapi realistis) bilang, sistem sirkular ini bisa naikin pendapatan petani nanas hingga 15% dari penjualan limbah kulit yang biasanya dibuang.
Jangan Sampai Salah, Niat Baik Malah Bikin Masalah Baru
Tapi nggak gampang. Beberapa kesalahan yang bisa terjadi:
- Mengira Semua ‘Bahan Alami’ Bisa Dikubur Sembarangan. Kapas organik kan dari tanaman? Iya. Tapi kalo udah jadi kaos, dia dijahit pake benang polyester, dikasih kancing plastik, dan dicelup pake pewarna kimia. Kaos itu tetep aja jadi sampah beracun kalo dikubur. Yang regeneratif itu seluruh komponennya didesain untuk kembali ke bumi.
- Lupa Sama Perawatan dan Daya Tahan. Fashion regeneratif tujuannya biar baju punya akhir hidup yang mulia. Tapi sebelum sampe situ, dia harus bisa dipake lama. Kalau bajunya cepet banget rusak (misal, 3 bulan udah bolong), terus-terusan beli baru, ya sama aja boong. Itu malah bikin jejak karbon produksinya makin besar.
- Tidak Punya Sistem Pengembalian/Koleksi. Ini masalah terbesar. Kamu udah beli baju regeneratif, udah dipake bertahun-tahun, terus gimana cara ngembaliinnya ke tanah atau ke pabrik? Kalau brand-nya cuma jual, tapi nggak sediain program take-back, ya akhirnya baju itu tetep masuk tempat sampah umum dan berakhir di TPA. Siklusnya putus di tangan kita.
Tips Jadi Bagian dari Siklus Fashion Regeneratif
Gimana caranya kita, sebagai konsumen, bisa beneran mendukung?
- Beli dari Brand yang Punya Program ‘Take-Back’ yang Jelas. Sebelum beli, tanyain: “Kalau baju ini udah rusak total, bisa dikembaliin ke brand nggak? Kalau bisa, bakal diapain?” Brand yang serius pasti punya program ini. Ini prasyarat utama.
- Prioritaskan ‘Monomaterial’. Cari baju yang sebisa mungkin terbuat dari satu jenis material saja (misal, 100% Piñatex, tanpa lapisan plastik). Semakin sedikit campuran material, semakin murni dan mudah proses penguraiannya. Kalau ada campuran, tanyakan apakah komponen lain (seperti kancing) juga terbuat dari material kompos yang sama.
- Rawat dengan Baik untuk Perpanjang ‘Masa Pakai’. Perlakukan baju regeneratif seperti investasi. Cuci dengan air dingin, jemur di angin (bukan mesin dryer), dan perbaiki jika sobek kecil. Semakin lama dipakai, semakin rendah dampak lingkungan per pemakaiannya.
- Kubur Sendiri? Cuma Kalau Brand Menginstruksikan. Jangan asal tanam! Cek label dan panduan dari brand. Beberapa material butuh kondisi tanah tertentu atau bahkan perlu dikembalikan ke fasilitas kompos industri mereka. Ikuti petunjuknya biar siklusnya sempurna.
Kesimpulan: Bukan Cuma Memakai, Tapi Merawat Sebuah Siklus
Fashion regeneratif ini mengajak kita untuk melihat baju bukan sebagai produk yang kita miliki lalu buang. Tapi sebagai simpanan sementara dari sebuah siklus alam yang lebih besar.
Kita bukan lagi akhir dari sebuah rantai konsumsi. Kita menjadi bagian tengah dari sebuah lingkaran kehidupan: meminjam bahan dari bumi, merawatnya dengan baik selama mungkin, lalu mengembalikannya dalam kondisi yang lebih kaya.
Setiap kali kita memilih baju seperti ini, kita memilih untuk tidak mengambil, tapi berpartisipasi. Dan itu rasa yang jauh lebih memuaskan daripada sekadar beli baju baru. Karena kita tahu, nantinya, baju ini tidak akan pernah benar-benar mati. Dia hanya akan berubah bentuk.
